ATURAN UNTUK KULWAP MALAM INI
1. *Sesi absensi dan perkenalan* akan dimulai pukul19:15 WIB - 19: 25 WIB.
2. Bagi yang ingin bertanya dan menanggapi lebih lanjut silakan memberikan tanda ✋π» (tanggapan) dan nama dipersilahkan untuk menanggapi diakhiri dengan tanda "✅"
3. *DILARANG*
Tidak diperkenankan memotong pembicaraan sebelum dipersilahkan moderator.
4. *Dianjurkan* untuk mencatat hal-hal yang dirasa penting untuk mengikat ilmu. Semoga ilmu dan diskusi yang akan berjalan nanti diberkahi oleh Allah SWT. Bagi teman-teman yang membuat notulensi, tag @ dan @ agar bisa kami repost
Contoh perkenalan:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi ayah bunda semuanya...
Perkenalkan saya Bunda .... berdomisili di Depok yang akan menjadi moderator pada Kulwap..... dengan tema *Rumahku Sekolah Pertamaku: Home Education Based on Fitrah* bersama ......
Sebelum saya jelaskan lebih lanjut mengenai peraturan Kulwap dan tanya jawab boleh dong *kita kenalan dulu sampai jam 10.00*
Bisa sebutkan *Halo, saya Nama/Domisili* aja ya biar lebih ringkas & mudah diingat...
Yuk yukkk biar lebih kenal & akrab π
__________
π *RUNDOWN & PERATURAN KELAS KULWAP .......s*
*_Rundown Kelas_*
07.00 - 10.00 : Pembukaan kelas & Perkenalan
10.00-10.30: Share Peraturan Kulwap
10.30 - 11.00 : Share Materi
11.00 - 17.00: Share link untuk mengajukan pertanyaan & sesi pengumpulan pertanyaan
17.00 : Batas akhir mengajukan pertanyaan via link
17.00-19.30: Moderator akan merekap, memilih, dan menggabungkan pertanyaan yg mirip/sejenis
19.30-20.00: Pembukaan Kelas & Menginvite Narasumber ke dalam kelas
20.00-20.05:
Menyapa narasumber & mempersilahkan narasumber membuka kelas
20.05-21.55 : Diskusi tanya jawab
21.55-22.00: Penutup dari narasumber, remove narasumber, penutup kelas, & pengumuman.
*_Peraturan Kelas_*
1. Untuk diskusi sesi pertama peserta mengirim pertanyaan via link yang akan dibagikan pada *Sabtu pukul 11.00*
Pertanyaan akan dipilih, dikompilasi, & digabungkan sesuai kemiripan oleh moderator.
Jika masih ada waktu & pertanyaan sudah habis akan dibuka *sesi kedua* dimana penanya dapat mengacungkan tangan ☝π»terlebih dahulu & menunggu dipersilahkan oleh moderator
2. Berpartisipasi dalam diskusi secara aktif & menggunakan bahasa yang sopan.
3. Tidak memotong pembicaraan/diskusi peserta lain.
4. Tidak chatting/mengobrol di luar materi selama Kulwap agar materi/jawaban pembicara dapat tersampaikan secara rapi & mudah terbaca peserta lain.
5. Saling menghormati perbedaan pendapat.
6. Jika mengalami kendala selama Kulwap atau memberikan masukan terkait berjalannya Kulwap dapat menghubungi moderator yang bertugas via japri.
7. Setelah Kulwap berakhir mohon tetap stay di grup karena notulensi akan dikirim dalam waktu 7 hari kerja setelah Kulwap.
*Salam Hangat*
π _*Tim......
_______
Thursday, August 29, 2019
Thursday, August 15, 2019
Kulwap: MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA
MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA.
"Anak-anak kita tidak menginginkan orang tua lain. Mereka menginginkan kita, orang tuanya sendiri". Kalimat ini benar-benar menjadi motivasi untuk kita agar memberikan kasih sayang terbaik pada anak. Berusaha terus memperbaiki diri demi anak-anak.
"Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang BEGITU luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali". Iya bun, saya pun merasakan hal ini. Apapun kesalahan yang sudah kita perbuat pada anak, mereka selalu menerima kita dengan tulus, selalu kembali ke dalam pelukan kita. Astaghfirullah.... kuatkan ya Allah, agar bisa terus memperbaiki diri.
Benar-benar menjadi lembelajaran dan self reminder bahwa menjadi orang tua harus bisa mengasah kecerdasan emosi. Menjadi seorang ibu harus memiliki kecetdasan emosi agar mampu membersamai anak-anak dengan bahagia π.
_
"Anak-anak kita tidak menginginkan orang tua lain. Mereka menginginkan kita, orang tuanya sendiri". Kalimat ini benar-benar menjadi motivasi untuk kita agar memberikan kasih sayang terbaik pada anak. Berusaha terus memperbaiki diri demi anak-anak.
_
"Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang BEGITU luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali". Iya bun, saya pun merasakan hal ini. Apapun kesalahan yang sudah kita perbuat pada anak, mereka selalu menerima kita dengan tulus, selalu kembali ke dalam pelukan kita. Astaghfirullah.... kuatkan ya Allah, agar bisa terus memperbaiki diri.
_
Benar-benar menjadi lembelajaran dan self reminder bahwa menjadi orang tua harus bisa mengasah kecerdasan emosi. Menjadi seorang ibu harus memiliki kecetdasan emosi agar mampu membersamai anak-anak dengan bahagia π.
*Sebelumnya ucapkan Bismillahirrohmanirrohim..*
*Semoga aktivitas hari ini, khusunya Kulwhap yg akan kita jalani saat ini bernilai ibadah dan menjadikan diri kita ALLOH ridhoi tuk menjadi pribadi yg sadar akan perubahan lebih baik.
*Sedikit tata tertib selama kulwhapp sore ini :*
1. Grup akan di mode admin/ditutup selama materi disampaikan agar menjaga kenyaman selama materi berlangsung
2. Akan *diberikan sesi pertanyaan setelah materi berlangsung,* boleh chat pertanyaan langsung ke Host/ co-Host
3.Dilarang left grup pada saat penyampaian materi, karena menjadi bagian dari *adab dalam menuntut ilmu dan menghormati narasumber*
4. Pertanyaan boleh di ajukan setelah ada aba-aba dari narasumber atau moderator/ fasilitator
*Jazaakumullah khayr*
Terima Kasih ..
π Salaam,
Team Kulwap Cerdas Emosi
Team Kulwap Cerdas Emosi
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr wb.
Assalamualaikum wr wb.
Semangat Sore, Ayah Bunda semuanya.
Apa kabarnya?
Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat dan berbahagia ya.
Semoga semua dalam keadaan sehat wal afiat dan berbahagia ya.
Tema kita sore ini tentang mengasah kecerdasan emosional orangtua, agar bisa mengasuh buah hati dengan bahagia. Amiin
Judul itu juga adalah doa, iya kan.
Mudah-mudahan kita semua yang berkumpul di sini, Allah jadikan kita orangtua yang cerdas emosinya dan bahagia dalam memgasuh buah hati tercinta. Aamiin .
*MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA*
Orangtua, perlu berlatih mengendalikan emosinya. Mengapa berlatih?
Ya, karena menjadi orangtua adalah peran yang baru bagi setiap orangtua.
Bisa di bilang masih gamang menjalaninya pada awalnya.
Emosi senang, bingung ,takut, campur aduk seiring peran itu hadir dalam kehidupan orangtua.
Seiring waktu pula, orangtua belajar dan berlatih mengenali dan mengelola emosinya agar bisa seirama dan nyaman bersama dengan anaknya.
Untuk itulah, penting bagi orangtua memiliki kecerdasan emosional yang baik agar ia mampu menjadi orangtua yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya dan juga emosi orang lain.
*Orangtua yang memiliki kecerdasan emosional yang baik artinya ia mampu mengenali emosinya sendiri juga mengenali emosi anaknya.*
Manfaat dari mengenali emosi diri dan orang lain sangat banyak.
Bila orangtua mengenali emosinya sendiri, ia akan tahu dan sadar kapan ia harus diam, dan kapan harus bertindak.
Begitu pula saat orangtua bisa mengenali emosi anaknya, maka orangtua akan mudah menentukan sikap apa yang akan diambilnya untuk merespon anaknya. Orangtua tahu apa kebutuhan anaknya dan bisa cepat merespon dengan tepat kebutuhan anaknya karena ia bisa mengenali emosi anaknya.
Sejak anak lahir, kita telah belajar mengenali emosi anak lewat tangisannya.
Ibu, khususnya, akan belajar mengenali tangisan bayinya. Apakah ini tangisan lapar, haus, sakit, ngantuk, kepanasan, kedinginan, takut, atau lainnya.
Ibu yang menyusui bayinya, tentu akan lebih mengenali & memahami kebutuhan anaknya lebih cepat.
Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk menyapih anak diusia 2th. Tujuannya agar ibu dapat lebih mengenali dan memahami buah hatinya, serta bisa membangun kedekatan emosional yang baik (kelekatan) dengan anaknya.
Tujuannya tentu agar semakin baik hubungan dan komunikasi antara orangtua dan anak sejak dini dan seterusnya.
*Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan berpikir dahulu sebelum bertindak.*
Contoh, ketika melihat anak sedang "bertengkar" dan ada yant menangis.
Coba kenali dulu emosi orangtua. Apakah orangtua "terpancing emosi" saat melihat kejadian yang tidak nyaman pada anaknya.
Dengarkan detak jantung orangtua. Bila jantung itu berdetak kencang tak beraturan, artinya kita sedang terpancing emosi, karena perilaku anak.
Maka saat menyadari emosi kita tidak stabil, sedang dikuasai amarah, atau sedang tidak terkendali, kita tahu harusnya kita DIAM dulu sebelum bertindak apapun.
Karena, setiap perkataan atau perbuatan yang dilakukan saat diri sedang dikuasai emosi negatif, hasilnya selalu salah.
Untuk itu orangtua perlu menenangkan dirinya lebih dahulu.
Lakukan langkah untuk membuat emosi kembali stabil TERLEBIH DULU sebelum bertindak apapun.
Diantaranya:
❤️ Tarik nafas panjang, lalu buang perlahan, lakukan berulang.
❤️ Diam dan mencari lokasi aman dulu untuk meredakan emosi
❤️ Ubah posisi tubuh senyaman mungkin
❤️ Berwudhu, ademin hati dengan air.
❤️ Tarik nafas panjang, lalu buang perlahan, lakukan berulang.
❤️ Diam dan mencari lokasi aman dulu untuk meredakan emosi
❤️ Ubah posisi tubuh senyaman mungkin
❤️ Berwudhu, ademin hati dengan air.
Setelah orangtua tenang, silahkan damaikan situasi yang sedang menegang diantara anak-anak.
Biasanya sih, saat orangtua menyikapi mereka dengan tenang, mereka pun akan segera tenang.
*Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan bertindak bijak dan tidak gegabah. Hasilnya, sikap, lisan, perbuatannya akan terjaga dan bisa memberi solusi dan kenyamanan bagi anaknya.*
*Orangtua yang bisa mengenali emosi anaknya akan mampu bersikap dan memberi respon yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan anaknya, hasilnya anak pun bahagia.*
Ketika melihat anak bertengkar dan menangis, orangtua yang mampu mengenali emosi anaknya akan cepat paham kebutuhan anaknya.
*Orangtua tahu bahwa apapun perilaku anak tidak lain tidak bukan mereka lakukan untuk meraih perhatian orangtua dan ingin mendapat kenyamanan dan perlindungan dari orangtuanya.*
Contoh saat anak menangis, orangtua akan paham dan coba mengenali tangisan anaknya. Apakah perilaku anak yang menangis ini adalah gejala:
π Mengantuk
π Lapar
π Ingin cari perlindungan
πButuh rasa aman
πButuh kenyamanan
πButuh perhatian
π Mengantuk
π Lapar
π Ingin cari perlindungan
πButuh rasa aman
πButuh kenyamanan
πButuh perhatian
Biasanya, anak-anak yang lapar dan ngantuk, akan menjadi lebih mudah terpancing emosinya, maka penting sekali bagi orangtua untuk kebali emosi anaknya.
Kenali makna dibalik perilaku anak.
Bila orangtua cepat mengenali tentu tau apa sikap yang harus di ambil saat ketemu momen yang menggemaskan di rumah.
Tentunya, orangtua akan memberi perlindungan dulu bila ada kondisi yang belum nyaman.
Ingat! Memberi perlindungan. Bukan mengancam apalagi menghakimi salah satu anak atau keduanya.
Jadi orangtua yang bisa mengenali orang lain, dalam hal ini anak, maka ia tahu bahwa anak yang sedang berantem sedang butuh perlindungan dan rasa aman dari orang dewasa yang dianggap bisa mendamaikan mereka yang tengah bertikai.
Bukan justru malah membuat tambah nggak aman ππΉ
Jadi kenali emosi orangtua sendiri dan kenali emosi anak.
Anak yang menangis atau berteriak adalah anak yang butuh perlindungan dan rasa aman. Segera berikan kedua hal itu. Hadir di dekat mereka, tenangkan yang menangis, redakan tangisnya tanpa perlu menghakimi anak lain yang dikira membuatnya menangis.
Tidak perlu ada keributan akibat omelan orangtua atau adegan tambahan berupa kekerasan akibat memihak salah satu pihak.
Insya Allah suasana akan segera aman terkendali dan nyaman bagi semuanya.
Bila orangtua mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan baik serta juga mampu mengenali emosi anaknya, maka itu artinya orangtua telah memiliki kecerdasan emosi yang baik.
Semakin baik kecerdasan emosi orangtua maka hubungannya dengan anak-anak pun otomatis semakin baik dan dekat.
Orangtua nyaman dan happy bersama anaknya dan anak pun juga ikut merasa aman dan nyaman bersama orangtuanya.
Ini tentu sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional anak.
Karena emosi bersifat menular. Ibu yang memiliki emosi yang positif akan mampu menularkan emosi positif itu pula pada anaknya.
Jadi, bila orangtua ingin anaknya cerdas emosinya, mampu mengelola amarahnya, baik dan santun sikapnya, maka orangtua harus bisa mencontohkannya lebih dulu pada dirinya dan pada sikapnya ke anak-anak.
Berbahagialah Bunda, karena diri kita sendirilah yang paling bisa membahagiakan anak-anak kita.
Anak-anak kita tidak menginginkan orangtua yang lain. Mereka menginginkan kita, orangtuanya sendiri.
Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang begitu luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali.
Begitu pula hendaknya sebaliknya. Seberapa pun banyak kekurangan dan kesalahan anak-anak kita, kita harus menerima dan memaafkan mereka sepenuh dan setulus hati kita.
Lapanglah hati kita
Mudahlah memaafkan
Terima anak kita seperti apa adanya mereka
Hadirkan selalu bahagia saat membersamai mereka
Insya Allah mereka akan menjadi anak yang Bahagia dan mampu membahagiakan orangtuanya pula.
Mudahlah memaafkan
Terima anak kita seperti apa adanya mereka
Hadirkan selalu bahagia saat membersamai mereka
Insya Allah mereka akan menjadi anak yang Bahagia dan mampu membahagiakan orangtuanya pula.
Semakin baik emosi orangtua, semakin baik hubungannya dengan anak, semakin bahagia pula orangtua dalam mengasuh buah hatinya.
Happy mom, happy life, happy family .
Kulwa: Membentuk Karakter Anak Melalui Universitas Pangkuan
Pemateri:
Nela Agustin Kusuma Wardani, biasa dipanggil dengan Nela. Dosen di Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) Putra Indonesia Malang sekaligus sebagai Penyedia Fasilitas Edukasi PT Tigaraksa.
Judul kuliah singkat kali ini adalah *Membangun Karakter Anak Melalui Universitas Pangkuan* .
Sebenarnya apa sih *Universitas Pangkuan* itu ?
dari sinilah para pemerhati edukasi sangat sadar sekal bahwa istilah *"Universitas Pangkuan"* merupakan istilah bagus dan bisa disampaikan sebagai *semangat literasi* .
karena *keluarga adalah mdrasah utama dan ibu adalah madrasah pertama*
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya dimulai di usia kanak – kanak atau yang biasa disebut oleh para ahli Psikologi sebagai usia emas (Golden Age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabiitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.
Apa itu golden age (masa keemasan) ?
Golden Age atau masa keemasan, adalah “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa golden age, yaitu 0-7 th, sebagai awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.
Semua yang dipelajari seorang anak pada usia Golden Age pasti berhasil dan akan teringat terus sampai ia dewasa. Perlu bukti?? Berjalan dan Berbicara menjadi 2 contoh yang amat mudah. Seorang anak ketika belajar berbicara tidak pernah lelah bukan? Walaupun ia tidak mengerti apa yang ia katakan, namun ia terus berbicara, terus mengeluarkan kata-kata, tanpa merasa lelah dan tanpa merasa ingin berhenti… Hasilnya? Yap, ia bisa berbicara dengan lancar sedikit demi sedikit, hingga dapat menjadi pembicara yang handal ketika besar.
Begitupun dengan berjalan.. Perlahan dan perlahan, namun pasti, mulai dari tiduran, mengangkat badan, duduk, merangkak, mulai berdiri, berjalan perlahan dengan bantuan, hingga dapat berjalan dengan lancar, bahkan berlari, tentu semuanya tidak dilakukan dengan cepat dan mudah. butuh waktu yang cukup lama. 2 bulan, 4 bulan, bahkan ada yang sampai 1 tahun. namun selama masa belajar itu, tidak ada anak yang merasa lelah. Walaupun jatuh berkali-kali, ia pasti kembali bangun. walaupun menangis berkali-kali namun ia tetap mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya ia sukses berjalan dengan lancar tanpa bantuan orang lain.
Jadi masa Golden Age bukan semata-mata karena perkembangan otak yang pesat, namun disebabkan juga oleh mindset seorang anak dimana ia terus menerus belajar tanpa mengenal kata “GAGAL”, “LELAH”, “BERHENTI”, dan kata-kata sejenisnya. Yang selalu terlintas dalam benaknya ialah bagaimana agar dapat sukses dalam belajar mengenai apapun.
Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.
Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungansekitar.
Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.
Sebagai seorang dosen, sy pribadi miris dengan perilaku mahasiswa saat ini. Bukan mengeneralisir, tapi kebanyakan memang kurangnya attitude yang baik dengan orang yang lebih tua, atau bahkan sesamanya.
Dan juga, anak-anak kita ini memang sudah berbeda jaman dengan jaman kita masih anak-anak dulu. Sekarang arus teknologi dan perkembangangan zaman sangat lah pesat. Dan tak mungkin kita melarang mereka untuk mengikuti perkembangan zaman.
Tapi tugas kita lah yang mengarahkan, mendampingi, dan mengayomi mereka untuk menjadi pribadi yang memiliki *karakter* baik.
Dimulai kapan pendidikan karakter ini? dimulai dari *pangkuan ayah dan bunda* sendiri..
Bagaimana menerapkan universitas pangkuan di rumah ? Salah satunya dengan memangku anak untuk membaca buku bersama. Kenapa harus buku ?
karena dengan membaca buku bersama anak, anak akan berkenalan dengan kosakata, belajar mengenal konsep, membuat otaknya aktif, melatih anak berimajinasi, bekal ketika belajar membaca nanti, membangun kemampuan kognitif (berpikir) anak, menciptakan hubungan yang baik untuk Anda dan Si Kecil. Selain itu, akan terbentuk bonding yang kuat antara ayah ibu dengan anaknya. Dan akhirnya akan berujung, terbentuknya karakter anak yang baik dan berintegritas, agamis, dan bermoral baik.
Nela Agustin Kusuma Wardani, biasa dipanggil dengan Nela. Dosen di Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) Putra Indonesia Malang sekaligus sebagai Penyedia Fasilitas Edukasi PT Tigaraksa.
Judul kuliah singkat kali ini adalah *Membangun Karakter Anak Melalui Universitas Pangkuan* .
Sebenarnya apa sih *Universitas Pangkuan* itu ?
dari sinilah para pemerhati edukasi sangat sadar sekal bahwa istilah *"Universitas Pangkuan"* merupakan istilah bagus dan bisa disampaikan sebagai *semangat literasi* .
karena *keluarga adalah mdrasah utama dan ibu adalah madrasah pertama*
Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya dimulai di usia kanak – kanak atau yang biasa disebut oleh para ahli Psikologi sebagai usia emas (Golden Age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabiitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.
Apa itu golden age (masa keemasan) ?
Golden Age atau masa keemasan, adalah “masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang”. Beberapa pakar menyebutkan sedikit perbedaan tentang rentang waktu masa golden age, yaitu 0-7 th, sebagai awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka.Pada masa-masa ini, kemampuan otak anak untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi si anak di kemudian hari.
Semua yang dipelajari seorang anak pada usia Golden Age pasti berhasil dan akan teringat terus sampai ia dewasa. Perlu bukti?? Berjalan dan Berbicara menjadi 2 contoh yang amat mudah. Seorang anak ketika belajar berbicara tidak pernah lelah bukan? Walaupun ia tidak mengerti apa yang ia katakan, namun ia terus berbicara, terus mengeluarkan kata-kata, tanpa merasa lelah dan tanpa merasa ingin berhenti… Hasilnya? Yap, ia bisa berbicara dengan lancar sedikit demi sedikit, hingga dapat menjadi pembicara yang handal ketika besar.
Begitupun dengan berjalan.. Perlahan dan perlahan, namun pasti, mulai dari tiduran, mengangkat badan, duduk, merangkak, mulai berdiri, berjalan perlahan dengan bantuan, hingga dapat berjalan dengan lancar, bahkan berlari, tentu semuanya tidak dilakukan dengan cepat dan mudah. butuh waktu yang cukup lama. 2 bulan, 4 bulan, bahkan ada yang sampai 1 tahun. namun selama masa belajar itu, tidak ada anak yang merasa lelah. Walaupun jatuh berkali-kali, ia pasti kembali bangun. walaupun menangis berkali-kali namun ia tetap mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya ia sukses berjalan dengan lancar tanpa bantuan orang lain.
Jadi masa Golden Age bukan semata-mata karena perkembangan otak yang pesat, namun disebabkan juga oleh mindset seorang anak dimana ia terus menerus belajar tanpa mengenal kata “GAGAL”, “LELAH”, “BERHENTI”, dan kata-kata sejenisnya. Yang selalu terlintas dalam benaknya ialah bagaimana agar dapat sukses dalam belajar mengenai apapun.
Di masa-masa inilah, peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spriritual.
Usia tersebut merupakan waktu yang ideal bagi anak untuk mempelajari berbagai macam keterampilan, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang akan berpengaruh pada masa-masa kehidupan selanjutnya, dan memperoleh konsep-konsep dasar untuk memahami diri dan lingkungansekitar.
Agar masa keemasan ini termanfaatkan secara optimal, maka orangtua diharapkan dapat melakukan proses pengasuhan dan pendidikan dengan cara yang optimal pula. Selain kemampuan dan pengetahuan, orangtua juga memerlukan media pendukung untuk membantu proses tersebut.
Sebagai seorang dosen, sy pribadi miris dengan perilaku mahasiswa saat ini. Bukan mengeneralisir, tapi kebanyakan memang kurangnya attitude yang baik dengan orang yang lebih tua, atau bahkan sesamanya.
Dan juga, anak-anak kita ini memang sudah berbeda jaman dengan jaman kita masih anak-anak dulu. Sekarang arus teknologi dan perkembangangan zaman sangat lah pesat. Dan tak mungkin kita melarang mereka untuk mengikuti perkembangan zaman.
Tapi tugas kita lah yang mengarahkan, mendampingi, dan mengayomi mereka untuk menjadi pribadi yang memiliki *karakter* baik.
Dimulai kapan pendidikan karakter ini? dimulai dari *pangkuan ayah dan bunda* sendiri..
Bagaimana menerapkan universitas pangkuan di rumah ? Salah satunya dengan memangku anak untuk membaca buku bersama. Kenapa harus buku ?
karena dengan membaca buku bersama anak, anak akan berkenalan dengan kosakata, belajar mengenal konsep, membuat otaknya aktif, melatih anak berimajinasi, bekal ketika belajar membaca nanti, membangun kemampuan kognitif (berpikir) anak, menciptakan hubungan yang baik untuk Anda dan Si Kecil. Selain itu, akan terbentuk bonding yang kuat antara ayah ibu dengan anaknya. Dan akhirnya akan berujung, terbentuknya karakter anak yang baik dan berintegritas, agamis, dan bermoral baik.
Jika ada pertanyaan, anak sy tidak suka membaca ? Bagaimana agar dia suka membaca ?
Jawabannya sangatlah mudah ayah bunda..
Kita sebagai orang tua lah yang hadir sebagai orang pertama yang membacakan buku untuk anak. Melalui pembiasaan membaca buku ini lah, anak akan sangat menyukai buku.
Kita sebagai orang tua lah yang hadir sebagai orang pertama yang membacakan buku untuk anak. Melalui pembiasaan membaca buku ini lah, anak akan sangat menyukai buku.
Yaaa...anak ini peniru yang ulung loo...
Jangan kaget, jika apa yg kita katakan kita kerjakan akan mudah ditiru mereka.
Jangan kaget, jika apa yg kita katakan kita kerjakan akan mudah ditiru mereka.
Rasulullah SAW juga menyampaikan pendidikan karakter untuk anak yaitu dengan keteladanan dan nasehat yang baik.
dan Rasulullah SAW lah sebaik-baiknya teladan untuk kita semua. Ajak anak untuk membaca buku siroh nabi dan meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW seperti dalam buku Muhammad Is My Hero.
Membangun karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak, akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci bisa berkembang optimal.
*_Dorothy Law Nolte_ pernah menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya.* Lengkapnya adalah:
1. Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
4. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyeasali diri
5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
6. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
7. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
8. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
9. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
10. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
2. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
3. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
4. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyeasali diri
5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
6. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
7. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
8. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
9. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
10. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Lalu, fasilitas apa yg kita perlukan utk membuat universitas pangkuan di rumah agar anak terbentuk karakternya melalui kegiatan membaca bersama dengan orang tua?
Kira-kira buku apa saja yang cocok dihadirkan di rumah masing-masing?
Dan.. Krn "GURU" nya adalah orangtua masing2, ajak berpikir bahwa pengennya anak kita *"LULUS"* dari universitas pangkuan dengan karakter seperti apa?
Karakter terbentuk sebagai hasil pemahaman dari hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Allah SWT (triangle relationship). Namun, pengembangan karakter anak yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan terutama dari *orang tua* .
*Pendidikan yang perlu di tanamkan kepada anak sejak awal adalah:*
1. Pendidikan keagamaan
Semakin dini kita menanamkan hal ini pada seorang anak, akan semakin kuat ahlak dan keyakinan akan Tuhan di dalam diri anak kita.
1. Pendidikan keagamaan
Semakin dini kita menanamkan hal ini pada seorang anak, akan semakin kuat ahlak dan keyakinan akan Tuhan di dalam diri anak kita.
2. Kualitas input yang diterima
Seorang anak pada usia dibawah 10 tahun belum mempunyai fondasi yang kuat dalam prinsip hidup, cara berpikir, dan tingkah laku. Tugas orang tua untuk memilah dan menentukan, input-input mana saja yang perlu dimasukkan,dan mana yang perlu dihindarkan. Demikian juga dengan membaca buku. Pilih buku-buku yang sesuai dengan usiannya dan berasal dari sumber yang jelas, seperti buku Widya Wiyata Pertama yang merupakan ensiklopedia anak yang berumur lebih dari 30 tahun, dan Cakrawala Pengetahuan Dasar yang memaksimalkan 49 keterampilan dasar anak.
Seorang anak pada usia dibawah 10 tahun belum mempunyai fondasi yang kuat dalam prinsip hidup, cara berpikir, dan tingkah laku. Tugas orang tua untuk memilah dan menentukan, input-input mana saja yang perlu dimasukkan,dan mana yang perlu dihindarkan. Demikian juga dengan membaca buku. Pilih buku-buku yang sesuai dengan usiannya dan berasal dari sumber yang jelas, seperti buku Widya Wiyata Pertama yang merupakan ensiklopedia anak yang berumur lebih dari 30 tahun, dan Cakrawala Pengetahuan Dasar yang memaksimalkan 49 keterampilan dasar anak.
3. Anak adalah peniru yang baik
Anak perlu figur seorang tokoh yang dikagumi, yang akan ditiru di dalam tindakan sehari-harinya. Pilihan utamanya biasanya akan jatuh pada orang tua. Ajarkan sesuatu melalui contoh, dengan tindakan orang tua sendiri, akan membuat anak meniru dan mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan dan karakter di dalam pertumbuhannya. Seperti halnya membaca buku, jika sejak kecil orang tua membacakan buku kepada anak, anak akan sangat antusias, dan akan menjadi gemar membaca yang artinya jendela ilmu akan terbuka seluas-luasnya.
Anak perlu figur seorang tokoh yang dikagumi, yang akan ditiru di dalam tindakan sehari-harinya. Pilihan utamanya biasanya akan jatuh pada orang tua. Ajarkan sesuatu melalui contoh, dengan tindakan orang tua sendiri, akan membuat anak meniru dan mengembangkannya menjadi suatu kebiasaan dan karakter di dalam pertumbuhannya. Seperti halnya membaca buku, jika sejak kecil orang tua membacakan buku kepada anak, anak akan sangat antusias, dan akan menjadi gemar membaca yang artinya jendela ilmu akan terbuka seluas-luasnya.
4. No Pain No Gain
System No Pain No Gain ini dalam jangka panjang akan membentuk karakter yang kuat dan tangguh dari si anak, karena mereka sejak kecil sudah dibiasakan harus bekerja dulu baru mendapatkan hasil.
System No Pain No Gain ini dalam jangka panjang akan membentuk karakter yang kuat dan tangguh dari si anak, karena mereka sejak kecil sudah dibiasakan harus bekerja dulu baru mendapatkan hasil.
5. Tiga perilaku dasar dalam berkomunikasi
Pertama adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan sesuatu kepadanya, kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong” apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah. Kelihatannya memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut ? Kalau anak kita sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai orang lain.
Pertama adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan sesuatu kepadanya, kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong” apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah. Kelihatannya memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut ? Kalau anak kita sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai orang lain.
Karakter, kepribadian, dan kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan input yang diterimanya dari orang tua. *Bila orang tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.*
*Cara Membangun Karakter Anak :*
1. Memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak.
2. Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini
3. Memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan yang bergizi.
4. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
5. Pola pendidikan harus saling berkaitan baik dirumah dan di sekolah.
6. Berikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji.
7. Berikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya, seperti membaca buku bersama anak.
8. Bersikap tegas, konsisten dan bertanggung jawab.
1. Memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak.
2. Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini
3. Memenuhi kebutuhan dasar anak antara lain kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan yang bergizi.
4. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
5. Pola pendidikan harus saling berkaitan baik dirumah dan di sekolah.
6. Berikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan tingkah laku yang terpuji.
7. Berikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya, seperti membaca buku bersama anak.
8. Bersikap tegas, konsisten dan bertanggung jawab.
*Tips Memahami Karakter Anak*
• _Mendengarkan anak anda dengan baik_
Jangan mendengarkan anak sebagai syarat saja, namun dengarkan dengan baik, berikan respon, dan pikirkan penyelesaiannya jika anak mempunyai masalah.
• _Mendengarkan anak anda dengan baik_
Jangan mendengarkan anak sebagai syarat saja, namun dengarkan dengan baik, berikan respon, dan pikirkan penyelesaiannya jika anak mempunyai masalah.
• _Berusaha memahami tipe emosional anak_
Berikan ia pengertian atau cari cara lain agar emosi anak tidak bertambah buruk dari waktu ke waktu.
Berikan ia pengertian atau cari cara lain agar emosi anak tidak bertambah buruk dari waktu ke waktu.
• _ Interogasi anak dengan baik_
Interogasi anak dengan lembut, buat ia mengatakan hal yang sebenarnya, dan ketahui bagaimana anak tersebut mampu menceritakan hal-hal yang sangat rahasia kepada anda. jika hal itu terjadi, maka anda telah memahami karakter anak dan siap untuk mendidiknya menjadi lebih baik.
Interogasi anak dengan lembut, buat ia mengatakan hal yang sebenarnya, dan ketahui bagaimana anak tersebut mampu menceritakan hal-hal yang sangat rahasia kepada anda. jika hal itu terjadi, maka anda telah memahami karakter anak dan siap untuk mendidiknya menjadi lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)





